Tasya Kamila Wisuda, Sejarah di Balik Jubah dan Topi Kelulusan

TEMPO.CO, Jakarta – Tasya Kamila meraih gelar Master of Public Administration (MPA) di Columbia University, Amerika Serikat. Kampus yang sama dengan Cinta Laura saat merampungkan program S1. Tasya mengunggah beberapa foto wisuda dalam Instagram miliknya, Senin 14 Mei 2018.

Biasanya kita melihat jubah dan topi persegi berwarna hitam, namun berbeda dengan Columbia University yang menggunakan warna biru untuk baju kelulusannya. Menggunakan jubah dan topi persegi atau yang dikenal dengan toga saat kelulusan adalah suatu kebanggaan. Setiap mahasiswa sangat menantikan saat itu, dan sangat bernapas lega karena telah melewati masa pendidikannya seberapa pun sulitnya jalan yang ditempuh.

Tidak banyak orang yang berpikir terlalu mendalam tentang pakaian akademik yang diperlukan untuk upacara kelulusan mereka. Walaupun tidak semua universitas memiliki jubah dengan warna yang sama, namun bentuk dan model jubah tidak pernah berubah.

Artikel lainnya:

Wisuda di Amerika Tasya Kamila Bikin Bangga Pakai Kebaya
Bahasa Tubuh Azriel Saat Wisuda, Pilih Ashanty atau Krisdayanti

Kabar kelulusan Tasya Kamila, langsung mendapat tanggapan positif dari netizen. Mereka ramai-ramai mengucapkan selamat dan mendoakan Tasya. instagram.com

Tradisi memakai jubah dan toga kelulusan sudah lama dilakukan. Di satu sisi, pakaian tersebut melambangkan betapa istimewanya hari itu hanya karena mereka yang telah bekerja keras dan gigih yang diberi hak untuk memakainya. Para penerima gelar kehormatan rela mengenakan jubah dan topi selama upacara walaupun beberapa diantaranya tidak merasa nyaman karena bahan yang terlalu tebal.

Saat para lulusan berjalan menyusuri lorong menuju tempat duduk masing-masing, topi dan jubah itu menambah perasaan bangga bahwa akhirnya satu bab dari kehidupan mereka telah berhasil diselesaikan. Mereka sekarang dapat maju ke tahap berikutnya.

Baca juga: Pakai Sepatu Trepes Saat Wisuda, Kenapa Tidak?

Jubah kelulusan, yang secara teknis disebut pakaian akademis, pertama kali dikenakan untuk pendidikan tinggi dan kemudian, pendidikan menengah. Tradisi mengenakan pakaian akademis untuk kelulusan dimulai lebih sebagai kebutuhan daripada sebagai pakaian resmi untuk ritual. Kebiasaan itu dimulai pada abad ke-12 ketika universitas-universitas awal masih mulai dibentuk di Eropa.

Universitas-universitas ini ditugasi untuk memvalidasi gelar serta daftar nama-nama sarjana yang secara resmi terdaftar, dan mereka mencatat kemajuan siswa ke tingkat berikutnya. Pada saat itu, tidak ada sistem pemanas yang cukup disediakan di universitas-universitas tersebut, dan dengan demikian, siswa dipaksa berimprovisasi agar tetap hangat. 

Topi kelulusan berbentuk persegi juga disebut mortarboard. Topi tersebut diyakini berasal dari biretta yang dikenakan oleh ulama ilmiah, yang digunakan untuk menandakan kehebatan dan kecerdasan mereka. Topi-topi ini menjadi populer pada abad ke-14 dan ke-15 dan hanya dipakai oleh seniman, humanis, siswa, dan semua yang belajar.

“Terlepas dari apakah Anda tinggal di Amerika atau di negara lain, topi wisuda dan gaun, bersama dengan jumbai, tudung, stola dan penutup diploma adalah pakaian umum setiap kali pria dan wanita lulus dari sekolah,” kata Amberh Ardrich, seorang analisis tren untuk pakaian akademis di seluruh dunia, dilansir dari laman Youniversity. Mulai dari anak yang lulus dari taman kanak-kanak atau taman kanak-kanak, hingga lulusan doktoral, Anda akan menemukan berbagai warna, gaya, dan bahan untuk afiliasi pendidikan Anda.

CANDRIKA RADITA PUTRI

Sumber : https://cantik.tempo.co/read/1089092/tasya-kamila-wisuda-sejarah-di-balik-jubah-dan-topi-kelulusan

Baca Juga