RUU Terorisme Atur Pemberatan Hukuman Pelaku Libatkan Anak

VIVA – Revisi UU Terorisme yang baru merumuskan aturan anak-anak yang dilibatkan dalam kegiatan terorisme tak disebut sebagai pelaku namun korban. Anggota Pansus Terorisme Arsul Sani mengatakan, hukuman bagi orangtua sebagai terduga teroris akan diperberat.

“Soal pelibatan anak-anak kalau kita mengacu pada UU perlindungan anak dan UU sistem peradilan pidana anak, anak itu kalau di bawah 18 meskipun dia yang melakukan, tetap diklasifikasikan sebagai korban,” kata Arsul di gedung DPR, Jakarta, Selasa 15 Mei 2018.

Ia menjelaskan anak yang terlibat aktivitas terorisme tak bisa diproses hukum yang berujung pemidanaan. Misalnya anak dipenjara seperti orang dewasa.

“Kalaupun ada proses hukum, hukumannya tentu adalah rehabilitasi atau apapun nanti bentuknya,” kata Arsul.

Ia menambahkan adapun hukuman bagi orangtua yang melibatkan anaknya dalam aktivitas terorisme maka akan diperberat sepertiga dari vonis hukuman.

“Kalau orang tuanya ketangkap hidup, hukumannya diperberat, termasuk salah satu pemberatan bisa ditambah sepertiga dari yang dijatuhkan, misalnya maksimal 12 tahun. Berarti ditambah sepertiga lagi bisa 15 tahun,” kata Arsul.

Berikut isi draf RUU Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme terkait pasal soal anak.

Pasal 16A

Setiap orang yang melakukan Tindak Pidana Terorisme dengan melibatkan anak, ancaman pidananya ditambah 1/3 (sepertiga).
    

Sumber : https://www.viva.co.id/berita/politik/1036639-ruu-terorisme-atur-pemberatan-hukuman-pelaku-libatkan-anak

Baca Juga