Menkeu Sri Klaim Impor Naik Pertanda Ekonomi Membaik

VIVA – Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyampaikan kondisi perekonomian Indonesia terkini. Salah satu yang menjadi sorotan berbagai pihak belakangan ini adalah defisit neraca perdagangan pada April 2018 yang tercatat sebesar US$1,62 miliar.

Defisit perdagangan terjadi lantaran pertumbuhan impor yang lebih tinggi ketimbang ekspor. Impor pada April 2018 melonjak tinggi mencapai US$16,09 miliar, sedangkan nilai ekspor hanya US$14,47 miliar.

Ani, sapaan akrab Sri Mulyani menegaskan, pertumbuhan impor yang lebih tinggi ini adalah awal dari pemulihan ekonomi Indonesia. Sebab, impor lebih didominasi oleh barang modal atau bahan baku yang penting untuk mendorong perbaikan ekonomi Indonesia.

“Impor yang tumbuh tinggi ini adalah indikator awal pemulihan ekonomi. Karena impor ini menyangkut bahan baku atau barang modal,” kata Ani dalam konferensi pers laporan Kinerja dan Fakta APBN 2018, di Kementerian Keuangan, Kamis 17 Mei 2018.

Dia menjelaskan, asumsi makro ekonomi dalam APBN 2018 yang telah ditetapkan, pertumbuhan ekonomi Indonesia ditargetkan sebesar 5,4 persen. Angka ini diyakini masih bisa tercapai dengan kinerja ekonomi Indonesia yang dinilainya terus membaik.

“Pertumbuhan ekonomi 5,06 persen pada kuartal I tahun 2018. Kalau di UU APBN diasumsikan 5,4 persen. Maka kita perlu kejar di kuartal II sampai IV,” katanya. 

Ia yakin, pertumbuhan kegiatan ekonomi domestik bisa terus membaik yang salah satunya dicerminkan oleh impor yang meningkat pada April 2018. Selain itu, THR dan gaji ke-13 juga akan mendorong konsumsi masyarakat. Konsumsi ini dinilai akan naik, khususnya pada bulan Ramadan dan Lebaran. 

“Karena ada impor bahan baku dan konsumsi puasa dan Lebaran,” katanya.

Sumber : https://www.viva.co.id/berita/bisnis/1037252-menkeu-sri-klaim-impor-naik-pertanda-ekonomi-membaik

Baca Juga