Liga Champions: Mourinho, Mediokeritas, dan Manchester United

TEMPO.CO, Jakarta – Jose Mourinho mencoba bersikap biasa, wajar, dan normal setelah Manchester United (MU) dikalahkan Sevilla asuhan Vincenzo Montella 2-1 pada pertandingan kedua 16 besar Liga Champions di Stadion Old Trafford, Manchester, Rabu dinihari 14 Maret 2018.

Manchester United pun tersingkir dari Liga Champions setelah kalah agregat 1-2 dari Sevilla pada dua kali pertemuan dalam babak 16 besar.

“Saya tahu hal ini sudah pernah terjadi di Manchester United sebelumnya karena saya duduk di kursi ini sebagai manajer Porto dan Real Madrid. Saya tidak berpikir ini adalah sesuatu yang baru buat klub ini,” kata Mourinho, sebagaimana dikutip The Guardian.

“Kami sudah melakukan yang terbaik, sudah berusaha, dan kami kalah. Itulah sepak bola,” pelatih asal Portugal itu menambahkan.

Baca: Hasil Liga Champions: Sevilla Depak Manchester United, Roma Lolos

Mourinho selanjutnya mengatakan untuk meningkatkan level Manchester United di Liga Champions, mereka perlu melakukan perombakan di segala bidang dan tidak cuma soal uang.  

Namun, gaya permainan yang diterapkan Mourinho di Manchester United sudah sering dikeluhkan oleh sebagian pengamat dan tokoh sepak bola di Inggris dan Eropa umumnya. Penilaian itu termasuk saat menjamu Sevilla di Old Trafford.

Tidak ada petualangan di lapangan dari para pemainnya untuk membongkar pertahanan musuh. Inovasi minim dan penampilan mereka terkesan membosankan.

Ketika mengalahkan Liverpool 2-1 di Liga Primer Inggris, 10 Maret lalu, Mourinho sampai mengatakan tidak akan mempedulikan omongan orang tentang bagaimana cara mereka mengalahkan Liverpool.

Mourinho menempatkan lebih banyak pemainnya di daerah permainan sendiri dan menempatkan Marcus Rashford sebagai pemain kuncinya seorang diri di depan.

Baca: Kemenangan Manchester United Dicibir, Mourinho: Saya Tidak Peduli

Ketika membawa Porto menyingkirkan Manchester United (MU) sebelum klub dari Portugal itu menjuarai Liga Champions 2003-2004, Alex Ferguson yang saat itu menangani MU mengatakan lawannya menggunakan taktik yang “gelap dan negatif”.

Dengan cara bertahan dan mengandalkan serangan balik, Mourinho membawa Inter Milan menjuarai Liga Champions 2009-2010. Di semifinal, mereka mengalahkan juara musim sebelumnya, Barcelona, dengan skor agregat 3-2.

Tapi, setelah era 2003-04 dan 2009-10, Mourinho tidak pernah bisa lagi membawa klub yang ditanganinya, Chelsea dan Real Madrid, meraih sukses besar di Liga Champions. Dan, kini terjadi lagi di Manchester United.

Baca: Liga Champions: MU Vs Sevilla 1-2, Ada 4 Rekor Baru Tercipta

Di Madrid dan Chelsea, Mourinho hanya berjaya di liga domestik dan bersama MU di Liga Europa musim lalu. Gaya permainannya yang cenderung bertahan lebih dulu dan mengandalkan serangan balik yang cepat pun untuk sementara tak menjadi lebih baik dengan kedatangan Alexis Sachez yang pindah dari Arsenal.  

Adapun Manchester United dalam sejarahnya sampai saat ini ternyata baru bisa tiga kali memenangi European Cup/Liga Champions UEFA, yaitu 1967-68, 1998-99, dan 2007-08. Yang pertama di bawah manajer dari Inggris yang legendaris, Matt Busby, dan dua terakhir tersebut di bawah penangangan pelatih legendaris lainnya, Alex Ferguson, orang yang pernah mengkritik Mourinho.

Sumber : https://bola.tempo.co/read/1069614/liga-champions-mourinho-mediokeritas-dan-manchester-united

Baca Juga