Berpisah 22 Tahun Lamanya, Orang Tua dan Anak Akhirnya Bertemu di Sebuah Acara Festival

HANGZHOU – Orang tua berpisah dengan anaknya selama 22 tahun, akhirnya bertemu kembali, menjadi perbincangan di China. Ini bukan cerita dongeng, namun cerita asli Qian Fenxiang dan suaminya Xu Lida akhirnya bertemu dengan putri mereka Jingzhi, yang berumur 22 tahun.

Cerita itu menjadi perhatian banyak orang kala orangtua angkat Jingzhi atau Catherine Su Pohler atau Kati, yang berkebangsaan Amerika mempertemukan mereka di Broken Bridge yang terkenal di Hangzhou.

Qian Fenxiang dan suaminya Xu Lida bercerita, dulu meninggalkan bayinya di pasar sayuran. Keputusan Qian dan Xu meninggalkan anaknya merupakan kebijakan satu anak China yang dikeluarkan sejak tahun 1979. Kati merupakan anak kedua. Sang ibu yang kala itu berumur 24 tahun, sembunyi-sembunyi melahirkan Kati. Lima hari usai melahirkan, Kati ditinggalkan di sebuah pasar dan diselipkan pesan dalam sebuah kertas.

“Putri kami, Jingzhi, lahir pada jam 10 pagi pada tanggal 24 bulan tujuh, tahun 1995. Kami terdesak melakukan ini karena miskin dan terpaksa meninggalkannya. Terima kasih telah menyelamatkan putri kecil kami dan membawanya ke perawatan Anda. Jika surga memiliki perasaan, jika kita mempunyai takdir, maka mari kita bertemu lagi di Broken Bridge di Hangzhou pada pagi hari di Festival Qixi dalam waktu 10 atau 20 tahun dari sekarang,” tertulis dalam surat tersebut.

Pada akhirnya, bayi yang ditinggalkan berada di panti asuhan di kota Suzhou. Di tempat itulah pasangan asal Amerika, Ken dan Ruth Pohler bertemu Kati dan memutuskan untuk mengadopsi. Mereka sendiri sudah memiliki dua anak laki-laki tapi menginginkan anak lain dan mendapatkan Jingzhi pada tahun 1996.

Saat mengadopsi, keluarga Amerika itu mengumpulkan catatan ibu kandung dan meminta penerjemah apa yang dikatakannya. “Dia begitu tersentuh olehnya, dia menangis saat dia membacakannya untuk kami. Pesan itu sangat tulus, “seperti yang diingat Ken.

Namun, orang tua angkat Kati memutuskan bahwa gadis itu tidak akan tahu kebenaran sampai berusia 18 tahun dan mereka tidak akan mengungkapkan apapun kecuali jika dia ingin tahu tentang masa lalunya.

Pada tahun 2005, ketika Kati berusia 10 tahun, Qian dan Xu menepati janjinya dan tiba di Broken Bridge di Qixi Festival. “Kami sampai di sana lebih awal, dan kami membawa sebuah tanda besar dengan nama putri kami dan kata-kata yang serupa dengan yang kami gunakan dalam catatan aslinya. Kami merasa seperti mendatangi ke setiap gadis yang kami lihat di jembatan, itu mengharukan,” kenang Xu.

Sayangnya, keterlibatan media setempat yang menyiarkan berita di secara nasional, membuat Pohlers mempertimbangkan kembali dan memutuskan semua hubungan dengan Wu dan orang tua. Tapi sebelum mengirim surat dan beberapa foto Kati ke Qian dan Xu, meyakinkan mereka bahwa mereka akan berhubungan lagi.

Langkah tersebut diambil dirinya untuk melindungi Kati dari pemberitaan media dan mempertimbangkan, apakah anak angkatnya sudah cukup dewasa untuk mengetahui identitas aslinya dan bertemua orang tua kandungnya.

Dengan hancurnya komunikasi Pohlers, Qian dan Xu terus mengunjungi Broken Bridge di setiap Festival Qixi. Mereka mungkin akan terus melakukan setiap tahun sampai akhir hayat mereka.

Pembuat film dokumenter Chang Changfu, yang mendengar kisah tragis Qian dan Xu, memutuskan untuk menghubungi mereka. Terkesan karena keinginan mereka untuk bertemu dengan Jingzhi, dia memutuskan melacak Pohlers dan berhasil melakukan hal itu, setelah memeriksa pesan online untuk orang tua yang telah mengadopsi anak-anak dari satu-satunya panti asuhan Suzhou.

Sayangnya, orang tua angkatnya mengatakan kepada Chang bahwa mereka telah menolak membangkitkan masa lalu dan tidak akan berhubungan dengan orang tua Kati saat berusia 20 tahun.

Namun, takdir memiliki rencana lain dan tahun lalu,Kati Pohler yang berusia 21 tahun pergi ke Spanyol sebagai mahasiswa pertukaran. Dia bertanya kepada orang tuanya tentang masa lalunya lagi. Mengingat bahwa dia cukup dewasa untuk mengetahui kebenarannya, Ruth mengatakan kepada gadis itu bahwa dia mengenal orang tua kandungnya.

Saya pikir orang di sana akan memiliki pertanyaan tentang saya menjadi orang China dan Amerika. Jadi saya meminta ibu saya untuk menceritakan masa laluku lagi, dan dia berkata, ‘Baiklah, kami harus memberi tahu bahwa kami benar-benar tahu siapa orang tua kandungmu. “Saya sangat terkejut,” kata Kati atau Jinghzhi.

Kati kemudian bertemu Chang dan setuju untuk menjadi bagian dari dokumenternya tentang reuni menakjubkan ini. Mereka bahkan mengatur tempat dan waktu acara besar – Broken Bridge di Hangzhou, pada Festival Qixi Qixi Festival 2017. Agar lebih dramatis, Qian dan Xu dibuat untuk tak bertemu dengan putri mereka yang telah lama hilang sebelum festival.

Akhirnya pertemuan itu benar terjadi sesuai rencana dengan penuh haru dan emosional. Namun juga agak canggung bagi keduanya.

“Senang melihat mereka. Saya terkejut dengan betapa emosionalnya ibu saya. Saya ingin ada semacam hubungan. Aku ingin melihat mereka lagi. Tapi pertanyaan besarnya adalah, apa untungnya bagi saya?,” kata Kati.

Pertemuan tersebut sangat sulit bagi orang tua kandungnya, yang telah mengalami banyak masalah selama bertahun-tahun dan hidup dengan penyesalan.

“Kami masih merasa bersalah. Jika kita tidak meninggalkannya, dia tidak perlu menderita begitu,”kata Qian seperti dikutip dari Majalah Post.

Pertemuan antara orang tua dan anak terjalin dengan rasa bahagia. Namun orang tua kandung Kati tetap tidak bisa menemui anaknya sesuai keinginan mereka. Ada masalah hambatan bahasa dan budaya untuk keduanya.

“Kami kecewa karena dia tidak akan memanggil kami mama dan papa. Kami memintanya, tapi dia bilang mereka tidak melakukannya di Amerika, bahwa mereka memanggil orang tua mereka dengan nama depan mereka,” kata Xu.

“Kami tidak bisa berkomunikasi dengan penuh karena kami tidak bisa bahasa Inggris dan dia tidak bisa bahasa Mandarin. Tapi kami tahu dia gadis yang sangat baik. Tapi sekarang setelah kami bertemu dengannya, kami merindukannya lebih dari sebelumnya,” lirihnya. (feb)

(amr)

Sumber : https://news.okezone.com/read/2017/12/07/18/1826782/berpisah-22-tahun-lamanya-orang-tua-dan-anak-akhirnya-bertemu-di-sebuah-acara-festival

Baca Juga