Aceh Wacanakan Adopsi Hukum Nyawa Dibayar Nyawa

BANDA ACEH (CAKAPLAH) – Dinas Syariat Islam Provinsi Aceh merencanakan hukaman qishash (setimpal, red) terhadap perilaku kejahatan seperti yang telah diterapkan Pemerintah Arab Saudi. Dengan hukum ini, kejahatan menghilangkan nyawa hukumnya bisa saja menghilangkan nyawa atau istilah ‘hutang nyawa dibayar nyawa’.

Meski begitu, menurut Kabid Bina Hukum Syariat Islam dan Hak Asasi Manusia Dinas Syariat Islam Provinsi Aceh, Dr Syukri, hal tersebut terlebih dahulu akan diteliti dalam tahun ini. Untuk penelitian ini, pemerintah menggandeng akademisi atas kesiapan serta dukungan masyarakat dalam penerapan hukuman qhisash di Aceh. Menurutnya, dalam pemberlakukan hukuman qishash itu tidak serta merta, terlebih dahulu harus melihat kesiapan masyarakat.

“Tidak langsung simsalabin jadi. Kita akan melakukan dengan penuh pertimbangan. Setelah hasil penelitian itu baru kita upayakan ke penyusunan naskah akademik dan draf dari pada hukum itu sendiri,” kata Syukri kepada wartawan di Pendopo Gubernur Aceh, Rabu (14/3/2018).

Wacana penerapan hukuman qishash di Aceh, kata Syukri, bertolak dari banyaknya kasus-kasus pembunuhan dalam waktu akhir-akhir ini di Aceh. Menurutnya, jika pemerintah konsisten dalam penerapan hukum syariat di Aceh, maka angka kriminalitas akan menurun.

Bahkan kejahatan pembunuhan diyakini akan hilang. Dirinya mencontohkan, Arab Saudi yang menerapkan hukuman tersebut secara ketat sehingga angka kejahatan pembunuhan menurun dan hampir tidak ada lagi.

“Hal itu dikarenakan mereka tahu bahwa dalam suatu kasus bila dihukum dengan hukuman yang sangat berat, mereka akan menyadari dan menahan diri untuk melakukan kejatahan itu,” ungkapnya.

Dikatakan Syukri, menjamurnya kasus pembunuhan di Indonesia dan khususnya di Aceh, dirinya menilai hal itu disebabkan karena pelaku pembunuhan itu hanya dihukum beberapa tahun penjara, tidak setimpal dengan apa yang dilakukan. Maka jika seseorang masih memiliki niat jahat, akan kembali melakukan pembunuhan, dan begitu juga dengan kejahatan lain.

”Jika seseorang menahan diri untuk membunuh maka nyawa orang lain akan selamat begitu juga dengan dia atau pelaku yang ingin melakukan kejahatan. Ini sebetulnya logika, jangan kita terus merasa alergi saat berbicara hukum qishash,” sebutnya.

Selain itu, dalam pelaksanaanya hukum qishash tidak hanya asal-asalan, sama dengan penerapan hukum syariat yang berlaku selama ini di Aceh. Sebelum dieksekusi, tentu ada proses mulai penyelidikan hingga putusan pengadilan. Dan jika semua unsur terlah dijajaki dan terbukti melakukan kejahatan maka akan dijatuhi hukuman qishash.

“Jadi tidak langsung akan diterapkan, karena prosesnya membutuhkan waktu panjang dan kita melakukannya penuh dengan pertimbangan,” ucapnya.

Untuk saran dan pemberian informasi kepada CAKAPLAH, silakan kontak ke email: [email protected]


Sumber : https://www.cakaplah.com/berita/baca/2018/03/14/aceh-wacanakan-adopsi-hukum-nyawa-dibayar-nyawa/

Baca Juga